Seni Resistensi dan Perang Ruang Makassar^

Kesenian Makassar, Memoar Seorang Awam

Keterbatasan pikiran menyimpan memori seseorang dalam perjalanan melewati waktu seringkali menjadi masalah. Seperti halnya ketika keinginan berusaha menapaktilas ingatan berakhir sama jika ingin memastikan kondisi masa datang. Penggalan-penggalan kisah akhirnya tertimbun jauh ke belakang. Akibatnya, kepayahan pun melanda ketika ia dibutuhkan.

Perkenalan saya dengan wacana kesenian Makassar mangalami hal yang sama dengan penggambaran tersebut. Kejadian-kejadian monumental dan seremonial yang dialami saja yang biasanya segera bersukarela untuk diingat. Tetapi, apakah hal seperti ini memadai untuk menggambarkan masa lalu sementara begitu banyak aktivitas proses yang terpinggirkan, tidak teringat lagi. Sebuah kondisi payah selalu terjadi berulang-ulang. Sangat terlambat untuk mencari catatan atau “diary” yang tidak pernah dituliskan. Memoir diartikulasi dalam keadaan kekurangan bahan, melahirkan frasa kira-kira.

Suatu waktu di tahun 2003, Sanggar Seni Merah Putih melakukan pementasan di Gedung Kesenian Makassar. Momentum ini menjadi awal perkenalan saya dengan aktivitas berkesenian kontemporer kota ini. Pementasan tersebut menyisakan dua nama yang berhasil teringat. Adalah Shinta Febrianti dan Agus Linting, entah siapa dari mereka yang menjadi sutradaranya. Judulnya saja sudah lupa. Pementasan tersebut didominasi oleh pencahayaan biru dan berbagai bentuk kelamin manusia yang diolah dari adonan biru. Susah untuk menggambarkan kesan, apalagi bagi seorang remaja yang sedang mencari keramaian seperti saya.

Berkesenian organisasional dalam pengertiannya yang awam pernah saya lakoni ketika masih duduk di bangku SMA. Wadah kami bernama sanggar seni Anakkukang. Sanggar kami cenderung memilih kesenian tradisional untuk dipentaskan pada acara-acara seremonial internal sekolah seperti penerimaan tamu atau perpisahan dengan guru-guru dari luar negeri yang telah habis masa kontraknya.

Sampai pada pementasan teater oleh sanggar seni Merah Putih saya merasa tetap tidak mengerti aktivitas berkesenian itu sebenarnya. Sepertinya, hal yang dilabeli seni itu selalu membutuhkan panggung, galeri dan semacamnya. Setelah pementasan oleh sanggar Merah Putih tersebut, beberapa kali saya ikut “nongkrong” di Gedung Kesenian Makassar untuk menonton pementasan lagi atau sekedar menghabiskan malam. Saya mulai tahu beberapa nama yang dianggap senior di tempat “khusus” itu. Belakangan saya tahu beberapa diantaranya adalah legislator DPRD kota Makassar.

Tahun-tahun berikutnya saya disibukkan oleh pilihan menjadi mahasiswa sebuah PTN di kota ini. Berbagai rumor dunia kesenian Makassar yang sebelumnya biasa menyelinap pada perbincangan bermodal kopi, pelan-pelan tergantikan oleh romantika kehidupan kampus. Terakhir kali mengunjungi Gedung Kesenian Makassar ketika pementasan dan pameran bertemakan Golden Moment yang  diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan International Unhas beberapa tahun lalu.

Setahu saya, aktivitas berkesenian di Makassar cukup ramai ditandai dengan beberapa nama sanggar seni, studio grafis, komunitas fotografi, perfileman dan sebagainya cukup akrab di telinga. Komunitas-komunitas ini ada yang berbasis kampus maupun luar kampus. Hanya saja, sentrum berkesenian sepertinya terkonsentrasi pada beberapa tempat saja, tentu saja masih membutuhkan panggung dalam arti yang sebenarnya. Gedung Kesenian Makassar, Benteng Ujung Pandang, Benteng Somba Opu, kampus-kampus dan anjungan pantai Losari sepertinya dilumrahkan menjadi tempat pementasan. Meski demikian, beberapa pementasan kesenian memilih tempat selain yang telah disebutkan.

Seniman Firman Djamil pernah mengadakan pementasan teater di pinggir jalan Perintis Kemerdekaan. Beberapa kolektif juga memberikan pemaknaan yang berbeda terhadap “panggung” dan melakukan pementasan dengan cara mereka. Salahsatu di antaranya adalah  Puisi Purnama yang awalnya berlangsung di pinggir danau Unhas. Pentas Puisi Purnama mewajibkan semua yang hadir sebagai penampil membacakan puisi.

Momoar ini sepertinya tengah berjalan pada koridor tanpa pelibatan penonton. Pementasan, panggung, dan kesenian Makassar dalam ingatan saya didominasi oleh kealpaan afeksi pada ruang-ruang sosial. Kesenian yang berada di pusat keramaian kota sepertinya memiliki hubungan intim dengan kekuasaan dan wewangian politik. Sepertinya, terdapat jarak yang cukup untuk memisahkan lantai panggung dengan tanah di mana dia berdiri.

Seni untuk Seni, Sebuah Wacana Mematikan

“Kepercayaan pada seni untuk seni lahir kapan saja seorang seniman berada di luar keselarasan dengan sekitar sosialnya.” – G.V Plekhanov-*

Menyoal tentang seni dan kehidupan sosial, saya mencoba membangun sebuah pertanyaan analogikal untuk mengawalinya. Pada suatu masyarakat yang mempraktikkan demokrasi langsung (suatu sistem sosial tanpa hirarki kekuasaan) di mana produksi primer pada bidang usaha ril menjadi sumber penghidupan bagi semua orang yang didistribusikan secara langsung sehingga tercapai kesejahteraan bersama. Serupa halnya dengan pernyataan “normalnya” kehidupan berkesenian tanpa bumbu radikalisasi ketika situasi sosial-politik juga “normal”**. Dalam kondisi seperti itu, lalu di mana posisi seniman ditempatkan? Bagaimanapun, sampai hari ini belum ada seorang pun yang lebih berhak dari orang lain dalam penentuan nilai estetika yang dirasakan masing-masing orang. Selamanya akan terjatuh pada subjektivitas ataupun berbagai tetek bengek yang melatarinya. Semua orang masih setara dalam memaknai keindahan dan menikmatinya.

Sejarah perkembangan seni misalnya setelah zaman pencerahan di Eropa ditandai dengan lahirnya seniman sekaliber Leonardo Da Vinci sepertinya selalu memberikan tempat khusus bagi penguasa dalam bahasannya. Gegak gempita ketenaran Da Vinci tidak bisa dilepaskan dari peran penguasa yang memberikan subsidi untuk hidupnya. Lebih jauh, misalnya, tersingkirnya nama Amedeo Modigliani dari pembahasan karena kalah bersaing dengan Pablo Picasso yang lebih dekat dengan penguasa.

Makassar memiliki Da Vinci maupun Picasso atas dasar latar status yang serupa. Beberapa nama seniman Makassar kerap kali tampil pada pesta-pesta penguasa sekedar membacakan puisi sanjungan tanpa merasa malu. Suatu tontotan estetis anti kemanusiaan yang kronis. Sepertinya semua orang telah faham bagaimana watak birokrasi pemerintahan di negara ini. Selanjutnya kenyamanan ini menjadi sempurna ketika seniman hadir memberikan sanjungannya. Penggalan kalimat G.V Plekhanov di atas menceritakan situasi yang sama di mana Soviet Rusia sebagai latarnya.

Seni untuk seni, selamanya berujung pada dua hal yaitu pemujaan terhadap penguasa dan langgengnya penindasan terhadap rakyat. Lalu, untuk apa wacana seni itu sebenarnya? Apakah seni sekejam itu? Menciptakan keindahan untuk penindasan? Ataukah seperti hari ini dimana seni dalam berbagai sekadar menjadi pengalih perhatian kelas pekerja sehingga mereka memperoleh sedikit semangat hidup lalu kembali melanjutkan kerja kepada beberapa tuan.

Gedung Kesenian Makassar sepertinya telah menjadi monumen di mana seni itu elitis yang tidak berimplikasi pada kehidupan masyarakat luas mendapat perayaan. Keindahan menjadi milik sebagian orang saja. Masyarakat luas masih berkubang lumpur kemiskinan sehingga belum mampu secara moral dan mentalitas untuk menikmati seni seperti yang hadir pada panggung-panggung teater. Kemiskinan telah memborok, salah satu penyebabnya adalah keberadaan para pemimpin yang kerap dihadiahi puisi puja-puji oleh beberapa seniman.

Wacana seni untuk seni adalah lantai panggung yang berjarak terpisah dengan tanah tempatnya berdiri. Jika demikian, seni sebagai bahasa lain dari keindahan sepertinyabersifat rasial. Hanya bisa dinikmati tuan-tuan tertentu. Ia bersifat rasis terhadap masyarakat sehingga cenderung menjadi salah satu variabel yang menyengsarakan kehidupan banyak orang. Belum lagi jika ia dikaitkan dengan komodifikasi ala ekonomi-politik. Pewacanaan tentang seni sekalipun telah menciptakan jurang hirarki dominasi di dalamnya. Semestinya seni berada di tengah-tengah masyarakat luas dinikmati bersama. Keindahan itu semestinya bisa menghapus derita, salah satunya yang disebabkan oleh penguasa baik itu politik maupun ekonomi.

Seni untuk seni, kecenderungan untuk menyuarakan perjuangan rakyat saja belum cukup karena wacana seni selalu berjarak dengan kenyataannya. Pementasan atas nama kerakyataan pada tempat-tempat privat malah seperti perayaan onani di mana rakyat sekali lagi hanya sekadar objek dari sebuah perhelatan. Sama halnya dengan lembaga-lembaga swadaya atau NGO yang bergerak pada kesejahteraan rakyat tetapi melakukan sosialisasi program di hotel-hotel berbintang.

Seni untuk seni tentu saja selalu mendapatkan lawannya sendiri. Praktik-praktik aktivisme kesenian yang berdiri menentang berbagai dominasi tetap ada, hanya saja belum menjadi kekuatan yang dominan.

Aktivitas Perang Ruang Makassar

Ruang adalah modal bagi siapa saja. Termasuk kepada para tuan-tuan penguasa, pemilik modal maupun kepada gerakan-gerakan perlawanan. Ruang seringkali berubah menjadi arena peperangan untuk sekadar penyampaian pesan atau dan sebagainya. Ketika berbagai kanal penyaluran aspirasi tidak lagi menyenangkan, perebutan beberapa spasi pada ruang-ruang publik maupun privat perkotaan menjadi alternatif bagi kebanyakan orang.

Wacana seni rupa pada ruang luas perkotaan Makassar bukanlah latar yang dominan bagi hadirnya serangan-serangan dari berbagai pihak pada ruang publik maupun privat. Sebagian orang tidak percaya terhadap seni dan klasifikasinya mengambil langkah otonomis menyuarakan tuntutan melalui grafis yang hadir pada tembok, ataupun pementasan teater jalanan yang kemudian secara sadar atau tidak telah merebut beberapa spasi ruang publik yang menjadi area pertunjukan. Seperti seni peristiwa (happening arts) oleh Firman Djamil ketika mencoba mengurai ironi pemilihan umum. Pementasan ini sama sekali menghapus jarak dengan siapa saja yang hadir di sekitar tempat dia berdiri. Pementasan ini melibatkan semua yang berada di dekatnya, termasuk supir angkutan umum ketika menyerobot ruang jalan Perintis Kemerdekaan. Pementasan ini sarat akan tuntutan pribadi Firman Djamil yang turut menyertakan tuntutan banyak orang.

Para graffito artist maupun graffito yang menolak dilabeli artist sebagai bentuk penolakan wacana seni rupa melakukan hal yang sama. Berlomba-lomba dengan pemerintah atau pihak penguasa maupun iklan luar ruang produk-produk perusahaan mengisi setiap spasi yang kosong. Keadan yang kontras ini menjadi atmosfir yang menarik dalam pemanfaatan ruang. Sejauh ini, perang ruang perkotaan Makassar selalu menghadirkan kekontrasan. Pada wilayah resistensi, setidaknya ekspresi semacam ini berhasil mengada dalam bahasa yang lebih jujur dan menghapus jarak antara subjek dan objek yang menjadi permasalahan dalam perwacanaan seni.

Hari ini, tanpa tendensi untuk melakukan pemaksaan mengunyah sajian sederhana oleh Taring Padi dan Tanahindie, mengadakan perjamuan untuk kembali melakukan peninjauan ulang terhadap aktivitas berkesenian kita di Makassar. Ajakan ini bisa jadi serupa harapan yang akan menjadikan kita mampu merebut hak-hak menikmati, mempraktikkan, dan berbagi nilai dan rasa estetika secara lebih rasional. Ajakan ini ditujukan kepada siapa saja termasuk komunitas kesenian maupun yang menolak kata itu. Jika kata-kata adalah senjata lalu mengapa tidak “kesenian” yang jauh lebih variatif diangkat pada tataran yang lebih terhormat.

catatan:

^Hand out diskusi panel peluncuran buku Taring Padi Seni Membongkar Tirani di Kampung Buku, Tanahindie-Kampung Buku-Taring Padi, 11 Oktober 2011 oleh Darmadi.

*G.V Plekhanov, “Seni dan Kehidupan Sosial” terjemahan Samandjaja 2007 hal 8.

**Alexander Supartono dalam Taring Padi, Seni Membongkar Tirani, Lumbung Press 2011 hal 7.

Posted in Uncategorized | 6 Comments

Efisiensi, Minimalis dan Fix Gear

“as soon as we renounce fiction and illusion, we lose reality itself; the moment we subtract fictions from reality, reality itself loses its discursive-logical consistency.”
— Slavoj Žižek (Tarrying with the Negative: Kant, Hegel, and the Critique of Ideology)

Aku tidak sedang ingin mengumpat. Hanya ingin menyatakan apa yang sedang kupikirkan mengenai apa yang sementara aku lihat. Slavoj Žižek, beberapa hari yang lalu aku memperolehnya dari sebuah toko buku kecil di sekitaran Tamalanrea yang sedang berjuang keras menghidupi dirinya dari gempuran arus modal kapital raksasa yang mematikan. Aku membelinya bersama sebuah novel tentang Khurasan yang dengannya kutitip harap semoga memiliki guna selain sebagai penghias rak buku atau tumpukan kertas. Slavoj Žižek dalam retasan Thomas Kristiatmo yang menyoal tentang Subjektivitas dalam filsafat dan kebudayaan.

Kenyataannya aku belum paham bagaimana persfektif Žižek mengenai subjek. Aku bahkan belum menyelesaikan bacaanku. Sesekali aku menjumpainya melalui portal 80 dan kutemukan pernyataanya seperti quotation di atas. Žižek cukup menarik dan aku merasa terbantu dalam melihat jejumputan kejadian yang kualami beberapa hari ini. Žižek mungkin sedang berusaha mengembalikan subjek ke posisi sebelumnya yang lebih memiliki independensi maknanya yang belakang mulai terkenan hempasan gelombang trend pemikiran post-post -isme. Walaupun ini hanya berupa pendekatan, semoga aku tidak mengalami salah kaprah yang terlampau parah.

Aku meminjam Žižek beberapa hari ini, mencoba menyelam kesetiap palung yang memungkinkan. Aku sepertinya tidak menemukan apa-apa selain beberapa pernyataan zizek yang tampil dalam laman web 2.0 seperti di atas. Aku membawa Žižek kepermukaan dan menjadikannya kaca mata yang tentu saja tidak semahal jualan mas-mas di pinggir jalan itu.

 

Beberapa anak muda berlalu dihadapanku mengendarai sepeda fixie (fixed gear). Memang kelihatannya bentuk sepeda mereka sangat sederhana, minimalis dan efisien. Sejenak aku berandai, sepertinya gerak zaman itu memang sedang menuju kearah kesederhanaan. Konvergensi teknologi semakin menyederhanakan hal-hal yang dulunya tampak sangat rumit dan kompleks. Mungkinkah zaman sedang menuju Tuhan? Seperti yang senantiasa diperlihatkan ayahku bahwa salah satu jalan terbaik menuju Tuhan adalah kesederhanaan. Aneh saja menurutku, kenapa pula aku membangun kekonyolan ini. Aku memang sepakat dengan ayahku, tetapi apa hubungannya gear sepeda dengan Tuhan. Kebodohanku bisa jadi adalah jawabannya. Aku sanksi ada yang menghubungkan ketuhanan dengan gear sepeda.

Bukankah saat ini arah dunia sedang menuju ke tingkat konsumsi wacana green ecolife? Bukankah agenda gurita raksasa dunia yang terbesar sekarang adalah penyelamatan lingkungan melalui konsumsi tanpa batas terhadap barang dan jasa yang memiliki barcode “ramah lingkungan”. Bukankah ekspoitasi alam berupa eksplorasi tambang yang menelanjangi bumi dan mengulitinya itu sah-sah saja selama terdapat papan pemberitahuan bahwa tambang itu ramah lingkungan. Kendaraan berbahan bakar fosilpun serasa terbebas dari dosa dengan kata-kata ramah lingkungan. Bisa jadi, agama kembali mendapatkan simpatinya seandainya didandani kata-kata ramah lingkungan.

Maka aku tidak ingin menggonggong lebih jauh bagaimana kata-kata hari ini terjangkiti komodifikasi. Demi menjaga perut gendut beberapa tuan besar, maka segala sesuatu itu baik-baik saja asalkan ramah lingkungan. Terserah berapapun yang harus menderita kemiskinan, ataupun mati kelaparan demi terpenuhinya kebuasan nafsu tuan-tuan berdasi itu..

Entahlah, aku tidak terlalu faham apakah semua orang tahu kalau efisiensi itu adalah salah satu penyokong utama kandang gurita raksasa yang menghisap yang dikenal dengan nama kapitalisme. Aku juga tidak ingin berkata bahwa konsumsi tanpa batas adalah etika terbaik dari neoliberalisme. Yang aku tahu bahwa masih banyak “pagandeng” di kota ini yang setia mengayuh sepedanya setiap dini hari untuk menjangkau pasar mereka yang sebentar lagi akan berganti rupa menjadi circle K, supermarket, hypermarket ataupun ruko yang berwarna hijau, ramah lingkunagan. Bisa jadi di tahun-tahun mendatang para pagandeng itu tidak lagi menggunakan sepeda karena yang menjemput sayuran adalah mobil pedagang menengah dan pasar mereka juga telah lenyap. Bisa saja mereka mengambil kreditan motor, tapi adira yang mana yang mau memberikan kredit jika rekening bank saja mereka tidak punya. Mereka pasti survive menentang keganasan zaman, tetapi tidak sedikit juga yang akan punah. Mari menyelamatkan lingkungan, tapi bukan orangnya. Hanya yang bekerja menguntungkan tuan pemilik modal yang akan tersisa pucat terhisap dan terbuai manisnya kopi starbucks.

Tentu saja para pemakai sepeda fixie akan selamanya bertahan selama roda fashion dan trend masih menginginkan mereka ada. Jelas ini adalah gejala global yang selalu hadir menawarkan keramahan gaya hidup. Bersepedalah demi keselamatan bumi kita. Jika aku memiliki kuasa, maka para pagandeng itulah yang menjadi duta lingkungan. Jelas saja bahwa ide tentang sepeda fixie bukan terinspirasi dari para pagandeng karena siang hari aku jarang menemui sepeda fixie beraksi membelah debu jalanan. Biasanya tengah malam diakhir pekan, fixie tba-tiba menjadi pembeda siapa yang peduli lingkungan, keren, gaul dengan yang tidak menggunakan fixie. Kuat dugaanku bahwa sebenarnya fixie itu bukan sepenuhnya pilihan untuk keseharian seperti para pagandeng yang tidak memiliki pilihan lain selain sepedanya. Aku tidak ingin melihat lebih jauh berapa banyak uang yang harus disediakan untuk membangun sepeda fixie, yang pasti bilangan ratusan ribu rupiah tidak masuk hitungan. Aku juga tidak akan mencari tahu, merek apa saja dari korporasi apa saja yang memproduksi segala tetek bengek yang berhubungan dengan sepeda fixie. Berbelanjalah untuk menyelamatkan lingkungan. Seperti yang disebutkan Žižek diatas, kehilagan eksistensi logisnya. Demi sihir yang bernama “resistensi” atau perlawanan, gunakanlah sepeda fixie. Demi tahyul yang bernama resistensi terhadap kemapanan gaya dan kapitalisme, bersepedelah untuk keselamatan lingkungan. Jika kita tidak perduli lingkungan, lalu siapa lagi….karena bagi para tuan berdasi dengan perut gendut mereka yang tidak pernah kenyang lingkungan adalah segala sesuatu yang harus mendatangkan keuntungan bagi mereka. Žižek pernah berkata “Resistance is Surrender”!

 

“We Slovenians are even better misers than you Scottish. You know how Scotland began? One of us Slovenians was spending too much money, so we put him on a boat and he landed in Scotland.”
— Slavoj Žižek

Apa bedanya kita dengan Slovenians? Sama saja, kita menjadi pihak yang paling terakhir membayar segala harga untuk setiap gaya yang kita agungkan dimana beberapa orang mengapalkan uang itu menuju walstreet atau pun Royal Bank of Scotland. Tentu saja bukan lagi atas nama kita, bukankah kita telah memiliki sepeda fixie untuk menunjukkan betapa melawannya kita yang kita tukar dengan uang dalam kapal-kapal itu. Sebentar lagi akan mendanai penelitian mengenai gaya apalagi yang akan kita kenakan sehingga mereka segera membuatnya untuk kita dan kita segera “kembali” membayarnya. Sekali lagi!

Jun 11th

Pasar Sospol

dkDN

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Harapan tentang Rindu

Entah mengapa hari ini aku tiba-tiba saja mengingatnya, rasanya aku sangat merindukannya. Beliau yang saat itu berstatus sebagai dosen PTN dengan lantang menentang RUU BHP. Beliau yang selama saya kenal telah berjalan dengan tongkat. Beliau yang setiap pagi memimiliki solusi untuk masalah anak-anaknya yang tidak sempat dilebur malam. Beliau yang saat ini kurindukan untuk bercerita. Dialah Dr. Mansur Semma, dosen, ayah dan panutan bagi kami, bagi banyak orang.

Sebelumnya, aku menonton sebuah film korea yang entah apa judulnya. Yang kuingat dari film itu adalah konfliknya berupa perang kota dimana tentara membantai warga mereka sendiri karena dituduh sebagai pemberontak. Sebagian dari warganya dituduh mendukung Korea Merah, tetapi setiap orang dijalan tetap dibunuh. Bagi saya inti ceritanya tentang kebengisan tentara yang dibumbui oleh drama ala korea yang otentik punya.

Saya berfikir tentang struktur dalam masyarakat. Apakah komunitas ataupun sebuah institusi yang memiliki struktur hirarki dan homogen seperti itu selamanya akan mengandung bibit keburukan yang mengerikan didalamnya? Seorang tentara Korea itu digambarkan sangat baik, toh dia juga harus membunuh puluhan orang tak berdosa karena komandonya memang seperti itu. Jikapun kejahatan pemimpinnya diadili dikemudian hari, tetap saja tidak akan menghapus luka dan trauma bagi mereka terlanjur menjadi korban.

Saya bersyukur, saya menemukan seorang yang berbeda dengan cerita kebengisan tentara dalam film korea itu. Pak Mansur, melawan kekuatan raksasa yang bukan hanya pada skala universitas tempatnya mengabdi. Dengan lantang beliua meninggikan suaranya dihadapan para panitia pelaksanaan aturan dzalim itu tanpa ada vibra ketakutan dan keraguan disetiap intonasinya. Dia melawan arus raksasa yang sedang menggadaikan rakyat bangsa ini. Pak, aku sangat rindu untuk berbincang denganmu. Saat ini aku hanya bisa menuliskan note yang pendek ini yang kudendangkan keharibaanmu bersama Alfatihah yang kuucap dalam hati. Semoga semangat dan keberanianmu bisa menjangkau jiwa-jiwa kami yang telah kerdil dan penuh ketakutan.

dkDN

Kopi Kilo9

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Please, Please, Please Let Me Get What I Want (Der Dekadent Betrachtungsweise)

          Sebenarnya judul “note” ini persis sama dengan judul lagu yang dipopulerkan oleh The Smith yang tentu saja vokalisnya adalah Morrissey. Lagu yang bagus menurut saya, apalagi dengan vokal dan ketenaran Morrissey sepertinya selalu lebih penting dari apa yang dia sampaikan. Saya merasa sangat keren mengetahui tentang lagu-lagu dari pulau Britania dimana imperium tertua masih bertahan hingga kini dan paling baik dan penyebar kebaikan yang terutama, yang saya maksudkan adalah U.K., kerajaan Inggris Raya. Meraka sangat terkenal baik karena berhasil mendidik bangsa bar-bar Indian di Utara dan bangsa kolot A-(b)origin di selatan. Welcome to England mates! Home of saints for over the centuries.

          Saya mencoba mengurai signifikansi dari lirik lagu ini. Menarik bukan, berbicara tentang musik, tentang The Smith, Britpop atau tentang Western World? Sesuatu yang dengan gampang akan membuat banyak orang tertarik jika menceritakan kilau kemilau musikalitas Inggris sehingga menjadikan saya berfikir bahwa semua orang di dunia tahu siapa Morissey. Ketepatan yang teramat fatal dari seorang yang memang kadang bereaksi dan bersikap fatalis seperti saya. Dengan kategorisasi pengetahuan atau wawasan yang sama sekali teramat sangat penting seperti ini menegasikan keberadaan orang-orang yang tidak tahu siapa itu Morrissey, bukankah saya berkata semua orang tahu siapa Morrissey? Seperti penjaja birahi di pinggiran jalan, seolah-olah atau sedang berpura-pura mengetahui semua tentang apa yang dia ceritakan untuk menyenangkan pelanggan, saya melakukan itu! Tidak, Garry, tourist dari London itu tidak tahu siapa Morrissey. Tanda tanya? Siapa lagi selain Garry, anak sekolah minggu mungkin, preman jalanankah, sebagian besar ustadz, dan penyanyi orkes juga mungkin tidak tahu. Mereka benar-benar mengalami kerugian yang nyata karena tidak tahu siapa Morrissey.

          “Good time for a change. See the luck I have can make a good man turn bad.” Mari berbagi cerita, sehingga semua orang didekat kita berubah menjadi seperti yang kita inginkan. Mari bercerita tentang gilang gemilang Britpop supaya kita melupakan tempat yang terlalu menjemukan ini, anggap saja sarabba atau ballo itu rasanya seperti aroma teh di pinggiran sungai Thames dibawah langit sisa kejayaan zaman Victoria. Mari melupakan tanah ini, yang konon mewariskan pahit, duka serta kebencian selama berabad-abad. Lihatlah, paving block trotoar Abbey Road, mereka memakannya laksana makanan paling enak karena dia berasal dari Inggris. Para pendahulu kita ada juga yang terlanjur keren karena banyak dari mereka yang senang bergaul dengan bule-bule Eropa yang pada saat itu sedang plesiran menyebarkan kebaikan dan menawarkan persahabatan kepada bangsa kita. Para Kiyai, Pendeta, Petapa dan bangsawan serta pengikutnya itu terlalu bodoh menolak kebaikan memakan roti seperti orang Eropa. Mereka terlalu percaya dengan perkataan kotor Tuhan, yang menjadikan kita tidak mungkin menemukan kemegahan taman bermain seperti di kota Blackpool di Barat Daya Inggris karena tidak mungkin mereka mampu membangunnya di negeri ini. Lihatlah pemerintah kita sekarang, mereka itu sudah berpikir sangat maju, jeli dan cerdas, mengganti situs benteng Somba Opu dengan taman air untuk bermain…mereka jauh lebih cerdas dari pemerintah zaman dulu yang mencoba membentengi tanah kita dari kebaikan perdagangan dan pencerahan ala Eropa yang tidak perlu lagi berteman dengan Tuhan. Tentu saja kita tidak butuh benteng itu lagi, dunia barat tidak akan menyebarkan lagi kebaikan menggunakan meriam. Mungkin kita lebih membutuhkan benteng yang tebuat dari tumpukan katalog wisata dan menu-menu makanan yang bisa membuat kita cerdas dan lebih beradab. Atau mungkin kita memang tidak pernah butuh benteng sama sekali, aku menyesal mengapa leluhur kita itu harus membentengi negeri ini dari kebaikan monopoli dagang dan efek baik kolonialisme-imperialisme lainnya yang akan merambah tanah kita sebagai tawaran persahabatan orang-orang Eropa. Atau kita yang terlampau sial lahir di belahan bumi yang terpisah jauh dari benua biru? Aku bahkan malu mengaku sebagai bagian dari bangsa ini, bangsa yang senantiasa memasang benteng untuk setiap kenikmatan, kebaikan dan kemajuan ala masyarakat di tanah Prince William. Yakinlah bahwa benteng itu tidak memiliki makna apa-apa selain tumpukan batu yang bisa jadi malah mencederai mereka yang dulu membangunnya. Tidak mungkin benteng itu bermakna transenden, atau mistis, apalagi membentengi hasrat, budaya atau berbagai hal lain yang memang tidak bermakna butuh akan benteng batu.

        Seandainya saja nenek moyang kita cukup cerdas, mereka tidak perlu singgah di Timur Tengah ketika sedang berlayar ke barat untuk menjajakan buah palanya hingga ke pelataran Buckingham Palace. Apa lacur, mereka malah belajar tentang agama-agama yang lahir di jazirah itu yang sampai kini selalu dituduh sebagai kaum kolot, penyebab kekacauan, perang dan terorisme. Mereka belajar ilmu-ilmu nujum yang menjadikan air bisa menyembuhkan sakit perut, mengusir setan dan menyesatkan kerasukan roh baik. Mereka percaya tahyul bernama surga dan neraka. Kemudian mereka belajar membentengi diri dari budaya memakan pasta dan roti karena mungkin mereka malas menggiling beras menjadi tepung agar mereka bisa membuat pasta dan roti seperti yang mereka liat di emperan kaki lima di sekitar kastil Duke of Cambridge. Mereka membuat benteng itu sekokoh bentangan tembok Hadrian dari Wales hingga ujung Birmingham di Midlands Britain. Maka mereka pun mulai memitoskan bahwa kebaikan bangsa barat itu tidak cocok dengan kebodohan kita. Mereka mengatakan bahwa bukan agama yang menjadi penyebab perang, tetapi kebaikan orang-orang bule-lah yang menjadi penyebabnya. Bahwa mereka membutuhkan minyak untuk digunakan sebagai bahan bakar menghangatkan perapian, karena di utara itu sangat dingin. Kemudian menuduh dengan mengarang cerita dunia peri bahwa di akhirat nanti mereka akan mendapatkan api berlebih dari panasnya makanan seperti paving block yang disantap untuk mengusir dingin yang menjangkiti alam tempat tinggal mereka sepanjang tahunnya. Bukankah surga yang diceritakan leluhur itu sejuk, nyaman dan segala sesuatunya tersedia lalu dapat diperoleh dengan gampang secara swalayan seperti di mall-mall, sehingga mereka yang tinggal di daerah kita ini akan masuk surga karena Tuhan takut terhadap leluhur kita dan Dia terlalu lelah dikutuk dan dianggap lebih buruk mengurusi cuaca dibanding badan meteorologi, iklim dan geofisika sehingga panas di tanah ini menjadi alang-kepalang. Leluhur mendongengkan bahwa sumber daya alamlah penyebab perang itu selalu berkobar, tapi mereka menjadi picik dengan menjadi anti-materialists sampai harus menghalangi dan bermusuhan dengan para pencerah dari utara yang butuh bahan makanan, minyak dan pasar untuk menjual barang-barang mereka yang diproduksi melebihi kebutuhannya. Leluhur kita terlalu pelit, mereka enggan berbagi dengan bangsa Eropa. Lebih parah lagi, leluhur itu menyebarkan ajaran sesat dimana Tuhan menjadi inti ceritanya. Untung baik ada orang Eropa yang segera sadar bahwa Tuhan itu terlalu banyak mengekang, terlalu mengatur dan menghalangi kemajuan peradaban. Selama 9600 tahun peradaban jalan ditempat karena Tuhan terlalu berkuasa. Lihat sekarang hanya butuh sekitar 400 tahun untuk mencapai kemutakhiran zaman seperti hari ini. Jayalah bangsa Eropa, jayalah pencerahan, jayalah kemandirian yang terbebas dari Tuhan.

         Saya senang melihat teman-teman berbagi cerita sehingga menjadi semacam Opium yang mereview band-band Britpop sekaliber Stone Roses yang perlahan-lahan akan menggantikan buruknya selera musik bangsa ini sebagai sisa dari bodohnya leluhur yang mewariskan mental balada yang sekarang telah mendarah daging di tubuh bangsa ini mewujud kedalam dendang tembang melayu. Kita ini suka damai, maka janganlah menjadi penyuka lagu melayu tapi berlaku kasar. Jangan ulangi perangai leluhur kita yang kolot itu, yang suka melawan dan menentang kebaikan dan gilang-gemilangnya root musik Britpop sampai harus membangun benteng setebal tembok Fort Rotterdam. Ingat, kita harus menirukan orang-orang Makassar yang tidak kasar sebagai contoh aksi kreasi kaum intelektual muda kita yang brilliant, penyayang sesama, cinta damai, produktif, edukatif, visioner, maju, useful, efektif dan efisien. Saya salute dan angkat topi akan hal itu. Sekali lagi, mari berbagi cerita sehingga setiap orang yang dekat dengan kita berperilaku seperti yang kita inginkan. Semoga para supir pete-pete ditahun-tahun mendatang mulai memutar lagu-lagu Manic Street Preacher, Lush, atau Radio head. Semoga para tukang becak mulai menyukai nikmatnya makanan yang bernama paving block yang berasal dari trotoar Abbey Road. Mereka hanya butuh sekali mencoba, selanjutnya mereka akan menyukai kebaikan makanan itu, bukankah leluhur kita suka makan kambing karena terlanjur lebih dulu melihat orang-orang Timur Tengah makan kambing. Seandainya saja mereka lebih dulu melihat bangsa Woad memakan pasta, roti dan paving block…bisa jadi sekarang ini kita jauh lebih maju dan beradab. “Please let me get what I want this time!”

“Haven’t has a dream for a long time, see the luck I have can make a good man turn bad.” Seandainya leluhur kita menyukai Britfolk, maka bisa saja kemarin negara kita yang menang menjadi juara di piala AFF. Kenyataannya orang Malaysia lebih bisa berbahasa Inggris dibandingkan kita, sehingga mereka lebih faham bagaimana komentator ESPN menjelaskan jalannya pertandingan Liga Premier Inggris yang tentu saja lebih mendidik dibandingkan komentar Bung Towel di MNCtv. Lihatlah orang-orang Malaysia itu, mereka tahu tentang Ocean Colour Scene, Oasis, atau Super Furry Animals. Mereka mendengarkan Britpop dan tidak lagi menyanyikan lagu Melayu sehingga penjual DVD bajakan di MTC kehabisan stock jualan band-band Malaysia. Malaysia berhasil menceritakan musik kepada bangsa kita sehingga sekarang kita yang meramaikan produksi tembang-tembang Melayu. Mereka juga tidak lagi suka makan kambing, dan mulai memakan paving block dari Abbey Road sehingga mereka sekarang lebih maju dan beradab. Sebagai teman yang baik, Malaysia telah menjadikan kita seperti yang mereka mau, memproduksi lagu-lagu Melayu. Maka, sebagai teman yang baik, ceritakanlah tentang Britpop kepada teman-temanmu sehingga mengikuti Malaysia yang mulai maju dan beradab. Ceritakan pula bahwa paving block itu lezat sehingga mereka mau mencobanya dan akan menyukainya. Mereka pasti tertarik, tergantung se-seksual apa engkau beraktorika dan selucu apa engkau menirukan Sule’ Van Java. Yakinlah bahwa gen kebodohan yang merupakan bawaan dari leluhur masih dominan dalam diri teman-temanmu sehingga mereka akan mudah melakukan seperti apa yang kau inginkan. Ceritakanlah kepada temanmu bahwa Britpop itu seindah pesisir Lanceshire, dan paving block itu senikmat kehidupan The Beatles.

Seandainya leluhur kita lebih lama bergaul dengan orang Inggris, mungkin kita yang akan menjuarai piala AFF kemarin. Malaysia pantas jadi juara, saat ini mereka bersahabat baik dengan tahta Ratu Elazibeth yang masih dan selalu menyebarkan kebaikan di seluruh dunia seperti di Iraq, Afghanistan, Gaza Strip dan West Bank, bahkan di negara kita. Sangat wajar Inggris melakukan itu, negara-negara itu adalah negeri para muslim yang selalu dituduh kolot, penyebab perang, biang kerusuhan dan terorisme. Kita dukung saja Inggris, bukankah kaum beragama itu kolot? Wajar jika mereka diajari kebaikan yang sebenarnya. Bukankah keberagamaan itu selalu menghalangi kita untuk memakan pasta, roti dan paving block seperti yang dihidangkan dimeja makan Prince William? Kita ingin maju, negeri orang-orang beragama selalu menghalangi kemajuan karena mereka bertuhan. Biarlah saat ini mereka dididik untuk mencintai kedamaian oleh Inggris. Mestinya bangsa-bangsa kolot itu mencontoh orang-orang Makassar yang tidak kasar yang mencintai kedamaian ala Britpop, menyukai kelezatan bistro segurih paving block, dan akrab karib dengan orang-orang suci semisal Lhaksmi Mittal, George Soroush, maupun Warent Buffet .

Bisa jadi memang benar agama itu kolot, penyebab perang dan dalang terorisme. Makanya mari kita menyukai sepakbola Inggris yang berhasil mengganti penggunaan hari minggu yang biasanya untuk beribadah bagi orang Nasrani menjadi pertandingan Big Match EPL Super Sunday. “We don’t celebrate Sunday in Church anymore, we celebrated it in football stadium. Negeri Inggris memang sangat maju dan beradab. Dibandingkan bertindak konyol dengan menuhankan sesuatu yang tidak mungkin dilihat dengan mata kepala, lebih baik menuhankan bola yang merupakan benda yang memiliki bentuk paling sempurna, bola itu bundar. Daripada mereka menyayikan kidung jemaat yang sangat agamais dan bersahabat dengan Tuhan, maka tentu saja lebih baik menyanyikan musik Britpop yang meniadakan Tuhan dalam makna liriknya dan chants tim sepakbola yang penuh semangat dan kadang amarah. Yang paling mutakhir dari kemajuan mereka adalah fakta bahwa memakan paving block itu telah menjadi kebaikan yang mendunia. Apalagi sekarang ini standar etika dan moral yang paling baik adalah tergantung seberapa hafal engkau dengan nama pelaku industri kebaikan sepakbola, seberapa banyak koleksi band britpop yang kau miliki, dan di booth mana engkau pernah memakan paving block yang terlezat. “We participate, You participate, They Profit.” Sekali lagi, berbagi ceritalah kepada teman-temanmu sehingga mereka bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Demi kemajuan dan peradaban, saya memang sepakat bahwa Tuhan telah lama mati semenjak paving block enak dimakan. Saya juga sangat sepakat bahwa agama terbaik hari ini adalah agama ketidak ber-agama-an, jika Tuhan yang disembah adalah bentuk sempurna bulat, kotak atau segitiga. “Please, let me, let me get what I want this time”

d.k.d.n

awal Juni

Ruang Dapur Sepakat

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SNMPTN DAN PERTARUHAN MIDDLE CLASS

Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri tahun ini seperti sebelum-sebelumnya menjadi suatu tradisi industri akademik tahunan skala nasional dimana harapan dan cita-cita personal peserta dan harapan keberlangsungan negara dipertaruhkan. Tidak menutup kemungkinan, ratusan atau bahkan ribuan peserta seleksi tidaklah pernah memikirkan akan pendidikan yang sebenarnya atau sekadar bertanya akankah kelak kita akan mendapatkan pendidikan yang layak. Bisa jadi motivasi untuk benar-benar menempatkan diri dalam pemilihan fakultatif keilmuan dengan tujuan benar-benar untuk belajar telah menjadi butir-butir serpihan dandelion yang beterbangan ke angkasa di musim panas alam kelupaan. Demi menceburkan diri dalam pertaruhan dan peruntungan akan pelabelan status sosial yang menjadi modal utama memasuki industri yang lebih besar yaitu dunia kerja maka siapa yang butuh jawaban lebih. Pilihan telah jatuh pada jurusan yang memiliki peluang kerja tinggi. Kehidupan negara tentu saja sangat tergantung terhadap keberlanjutan produksi tenaga kerja yang akan mengisi setiap sudut dunia kerja yang menyokong keberadaannya.

Beberapa waktu yang lalu, segmen berita stasiun-stasiun televisi nasional mengabarkan tentang seorang anak yang lulus ujian nasional sekolah menengah atas tahun ini dengan predikat menyandang nilai evaluasi tertinggi ternyata tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi karena alasan kemampuan ekonomi. Apakah SNMPTN yang secara online bisa diakses siapa saja di dunia maya kemudian menjadi sesuatu yang benar-benar bisa diakses dalam dunia nyata? Samar-samar selalu terdengar dengung suara pemerintah bahwa penaikan standar nilai nasional baik itu ujian nasional dan SNMPTN adalah untuk menjaring putra-putri terbaik bangsa. Tetapi tidak pernah terdengar sistem yang ada itu bisa diakses oleh siapa saja. Hanya mereka yang mampu membayar yang berhak mengikuti seleksi ini. Lalu, kita tidak akan menegok kebelakang mencari dimana dasar-dasar konstitusi berdirinya negara ini berada. Undang-undang itu biasanya memang bukan untuk kaum lower class. Hari gini, Siapa sih yang peduli dengan si miskin. Mungkin untuk membayar uang pendaftaran SNMPTN ujian tulis yang kurang dari dua ratus ribu rupiah bisa menjadikan keluarga mereka harus menanggung lapar untuk beberapa hari. Maka jangan pernah berfikir dia akan mendaftar pada jalur SNMPTN JPPB atau apalah namanya yang tidak disubsidi oleh negara. Ternyata digitalisasi SNMPTN tidak akan pernah menjadi jawaban kepada si miskin untuk memperoleh kesetaraan akses terhadap pendidikan seperti yang kabarnya berlandaskan kemudahan akses dan kesetaraan. Terlampau banyak orang miskin dinegeri ini, yang menutup setiap kemungkinan akan adanya jalur bea siswa yang benar-benar membebaskan pelajar dari berbagai biaya-biaya.

          Survive for the fittest, kata-kata bapak evolusi Charles Darwin selalu saja mendapat tempat yang layak dalam kondisi kehidupan hingga hari ini. Betapa tidak, dunia pendidikan kita misalnya, sepertinya tidak mungkin mengelak untuk mengamini kalimat tersebut. Ketua panitia pusat SNMPTN melalui salah satu media nasional mengatakan bahwa pendaftar SNMPTN tahun ini hampir mencapi 800 ribu orang. Sementara itu daya tampung 60 universitas yang ikut dalam SNMPTN tidak mungkin mewadahi jumlah sebanyak itu. Belum lagi pembagian kuota pada sebagian besar universitas ternama ke dalam berbagai model penerimaannya yang melulu berlasan bahwa mereka menginginkan calon mahasiswa yang benar-benar berkualitas semakin mengurangi peluang lulus melalui SNMPTN. Universitas Gajah Mada setidaknya memiliki tujuh jalur masuk yang mana SNMPTN menjadi jalur dengan biaya pendaftaran terendah. Kuota untuk SNMPTN sendiri pada universitas-universitas ternama itu umumnya kurang dari 30 persen yang semakin mempertegas bahwa peluang untuk menjadi mahasiswa pada universitas-universitas ternama itu sangatlah kecil. Hanya yang “cocok” yang akan terpilih.

Betapapun regulasi mengenai komersialisasi pendidikan seperti RUU BHP dibatalkan oleh wakil rakyat yang kalah perang jalanan melawan konstituennya, tetapi bukan berarti “pengaburan” aturan ini tidak mampu dibaca oleh pihak-pihak yang menjalankan industri dunia akademik. Universitas-universitas tidak pernah mendapat teguran mengenai pengadaan berbagai jalur masuk yang beberapa diantara menembus nominal ratusan juta rupiah untuk uang pendaftarannya saja. Inilah jualan paling menguntungkan yang diproduksi oleh lembaga-lembaga pendidikan. Di sisi lain, dalam masyarakat kita pengakuan terhadap sumber-sumber pengetahuan yang hadir bukan melalui dunia akademik selalunya tidak diberi tempat. Telah menjadi common sense di dunia akademik bahwa profesor-profesor di negeri ini tidaklah produktif dalam berkarya. Jurnal-jurnal ilmiah yang dihasilkan oleh dunia akademik bisa dihitung jari di negeri ini. Sementara berbagai argumentasi maupun hasil penelitian-penelitian yang bukan diproduksi oleh dunia akademik paling-paling mendapat apresiasi yang terlayak jika dipandang sebelah mata. Lalu apa yang bisa dilakukan negara untuk menjawab persoalan-persoalan semacam ini. Kondisi seperti ini sepertinya terpelihara baik untuk stabilitas industri pendidikan. Belum tentu ada peserta SNMPTN yang peduli atau setidaknya mau tahu akan hal seperti ini.

Kondisi dunia pendidikan yang begitu buas tidak pernah menjadikan angka pendaftar SNMPTN mengalami penurunan jumlah. Tantangan dunia kerja menjadi alasan dominan penerimaan kenyataan ini. Kita semua harus bersekolah yang tinggi guna memperoleh ijazah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, walau kadang tidak sesuai. Permasalahan mendasar kehidupan seperti ketahanan dan kemandirian pangan secara nasional belum tentu menjadikan pendaftar SNMPTN yang memilih fakultas pertanian bercita-cita menjadi petani. Banyaknya pegawai-pegawai bank dan lembaga-lembaga pembiayaan berstatus sarjana pertanian bisa jadi menjadi alasan mengapa pemerintah kita sangat senang menimbun keuntungan dari kegiatan mengimpor bahan pangan. Jelaslah bahwa dunia pendidikan kita hanyalah salah satu fase yang harus dilewati middle class untuk mempertahankan kondisi kehidupan yang layak. Dalam sistem besar seperti ini, lower class akan selamanya memiliki akses yang terbatas untuk merubah nasib dan upper class akan semakin nyaman dengan pertambahan profit dari semua proses yang terjadi. Negara yang bercita-cita untuk mencerdaskan dan menyejahterakan rakyatnya dengan bisa hidup langgeng untuk waktu yang lama karena pewujudan harapan-harapan itu tetap berada di garis yang sepertinya tidak berujung dalam sistem seperti ini.

d.k.D.N

akhir Mei

Kamar Pelita

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sniffing Glue

Petang tadi, disela rerintikan hujan yang sepertinya enggan melepaskan pelukan eratnya kepada kota ini, sekumpulan bocah meringkuk di depan pertokoan yang telah tutup, sepertinya mereka adalah tukang parkir “khusus” malam hari.  Di tempat mereka nongkrong, kendaran parkir lumayan ramai, mungkin karena sepenjang  jalan Sungai Saddang Baru, warung Sari laut adanya hanya di situ.

 

Mereka berempat  saling duduk-jongkok berdempetan,  mungkin sekedar  memberikan  sedikit tanggap atas dinginnya udara hujan. Kutaksir umur mereka sekitar 7 sampai 9 tahunan. Tiga dari mereka memegang kantong plastik kecil dan satunya lagi erat menggenggam kaleng lem “Fox” ukuran sedang.  Sesekali diantara mereka menghirup udara dari dalam kantong plastik tersebut. Yah, mereka sedang “ngelem”. Anak sekecil itu ngelem?

 

Jalan sempoyongan karena “fly” tentu saja, tertawa dengan mudahnya dan sesekali melakukan “snapshouting”. Aku memarkir motorku dan segera mengambil tempat di warung yang parkirannya mereka tunggui. Saat makan aku terus kepikiran mengenai Sniffing activity itu. Aktivitas seperti ini oleh bocah seumuran mereka memang  telah sering kutemukan hampir di setiap sudut Makassar, khusunya di dekat pemukiman “lama” kota. Misalnya di sekitar rusun di dekat  gedung Celebes Convention Centre juga sering aku melihatnya. Pernah beberapa kali aku menyepa mereka, sekedar basa basi dan bertanya apakah mereka itu sekolah. Kebanyakan dari jawabannya adalah mereka tidak bersekolah, kalaupun bersekolah paling mereka di sekolah alternatif seperti “sokola” dan sekolah-sekolah rakyat informal lainnya.

 

Fenomena seperti itu di kota ini terbilang baru, sekitar 2 tahun terakhir. Sangat rock n roll, Ramones banget menurut ku, “Lets Sniffing Glue”! Tapi mereka masih sangat belia! Aku sedikit moralis berujar dalam hati, kenapa bukan susu yang mereka isap?

 

Kadang aku bertanya, knapa kalian tidak sekolah? “Tidak ada biaya”, katanya. Dapat uang darimana beli lem? “Dari parkir, ngamen dsb.”

 

Sebuah ironi murahan sedang kusaksiakn, tapi tidak lebih tragis dari gerakan MAKASSAR tidak KASAR ,  atau berbagai gerakan populis “lebay” lainnya yang juga lagi “trend”, setia seperti hujan.

 

Jelas mereka berasal dari keluarga miskin. Yang oleh Dg Kumis  dulu dijanjikan pendidikan gratis. Lalu bagaimana sampai tidak bersekolah? Saya mencoba membangun dua asumsi ceroboh yang sangat lacur. Pertama, mungkin mereka telah terdata (saya sedikit berpikir baik terhadap kerja pemerintah) tetapi penjual sepatu, seragam, tidak pernah “mendengar” kalo janji pendidikan gratis itu secara mutlak menjadikan mereka harus membagi percuma barang dagangannya. Kedua, mungkin juga karena Pak Daeng You Know Him sudah lupa, lebih keranjingan membangun kolam renang di Benteng Somba Opu guna memoderenkan arwah para pendahulu dengan memaksa mereka mengganti sarung kunonya dengan bikini terbaru, arwah mereka yang tumpah darahnya disana sebelum  tunduk dalam perjanjian Bongaya. “Pamapporang ka, ki pake sai kodong anne sempa bikini suapaya naciniki to tau bule nakani baji tommi tawwa Makassar, pake bikini mi kakek nenek na, supaya kota ta anne nikana tongi kota internasional ka (kayaknya semua ahli sejarah Bugis Makassar  sepaham bahwa pada abad-abad ke 15 bandar Makassar telah menjadi  salah satu bandar dunia dengan penduduk sekitar 30.000 jiwa dan salah satu ikonnya  adalah BSO. Lalu sekarang napak tilasnya adalah kolam renang baru dimana standar bermain dalam kolam adalah bikini? Hhhhmmm). Atau mungkin juga kemegahan Pocci na Indonesia telah memakan seluruh DAK, DAU, APBD dll yang mestinya untuk para bocah pengisap lem. Aku tidak ingin tahu di tempat lain, biar saja itu jadi penambah “nilai” tingkat prestasi Si BeYe super duper hyper narsis (tapi tetap Daeng You Know Him lah yang paling narsis diseluruh dunia tentunya).

 

Seandainya mereka memberikan uang  parkir itu kepada orang tua (kalau pun punya) mereka bukannya membeli lem, mungkin akan mengamankan stok beras hari ini. Tapi siapa perduli, hidup harus bersenang-senang selagi bisa, karena sinetron itu hanya ada di tv di mana di akhir cerita biasanya yang tertindas itu yang senang, dan jelas kulit mereka kencang,  putih dan mulus,  tidak kering nan keriput  seperti para kulit  bocah pengisap lem.

 

Apa yang tejadi, apakah hidup sebegitu kerasnya (memang sih…pajak, pajak, dan pajak. Coba saja setiap kita menghitung berapa pajak yang masing-masing kita setor kepada gayus setiap harinya. Kalau saya paling kurang RP 15.000, dengan perincian idealnya : rokok mini Rp 300/ batang, bensin non subsidi, warung makan, parkir, dan bayak lagi (saya sadar, bahkan tidak ada sesuatu apapun sekarang ini yang luput dari pajak, bahkan air dan udara sekalipun dengan sistem yang berlipat-lipat misalnya sebatang coklat Silver Queen, pajak petani coklat, pupuk nonsubsidi petani coklat , pajak pedagang coklat, pajak mobil pengangkut coklat, pajak pegudangan coklat, pajak pengolahan bahan baku coklat, pajak pabrik coklat silver queen, pajak distribusi silver queen, pajak mall/ mini market penjual silver queen —- yang semua itu dibayar oleh 2 pihak saja, pembeli silver queen dan petani coklat, bagaimana bisa? Itulah pajak-pajak nilai “yang terus” tambah) dan kebanyakan dari pajak itu hilang untuk hukuman sekitar 7 tahun penjara,  tapi bukan untuk menyekolahkan para bocah pengisap lem . back sound :The Beatles- The Taxman:. Sama juga dengan air aqua, galon pondokan, air es dll. Sama juga dengan pajak udara melalui tingginya harga kayu, pajak tissu, kertas, polywood, dsb). Hidup memang berat dalam hukum sebuah negara seperti Republik ini. Apa yang negara kembalikan kepada kita? Berita kriminal di tv dimana aparat selalu protogonis? Jalan rusak berlubang? Atau mungkin negara  mengembalikannya dalam banyaknya pembangunan mall di Makassar yang jelas bukan tempat sekolah atau nongkrong para bocah pengisap lem, padahal populasi mereka juga tidak bisa disngkirkan walau dengan aturan pelarangan memberikan sumbangan di jalan (setelah pemiskinan terstruktur, institusi negara kemudian mencoba “cuci-tangan” dengan genocide kaum miskin kota). Lalu apa butuhnya  kita terhadap negara? Tentu saja untuk membayar pajak, mengurus KTP dan terwakilkan di Piala AFF.  Dan untuk menggaji Papa ku juga rupanya hehehehe.

 

@Light House 4:31 am, Jan 25, 2011

Posted in Uncategorized | 6 Comments

Pojokan Negeri 1001 Masalah, Selamat Datang

Ruang ini penuh harapan. Sengaja aku memilih di bagian sudut dan tidak terlalu luas. Aku kira, semoga karena ini hanya di sudut, jadinya yang datang ke sini benar-benar yang ingin masuk ke dalam. Dan yang paling penting semoga pengawasan dan lampu sorot tidak menjangkau tempat ini.

Meski demikian, sesekali kedepannya saya tetap akan memublish sentilan tidak penting di dinding-dinding etalase pertokoan dan gedung-gedung advertising.

Sebenarnya blog edisi sebelum negeri1001masalah ini ada, hanya saja saya merasa malas untuk mengurusnya. kebanyakan tulisannya menyoroti masalah personal saja. saya merasa tidak begitu tertarik lagi membincangkan hal-hal yang terlampau persona. tetapi jika ingin berkunjung, silahkan saja. http://www.wajahjiwa.blogspot.com adalah pintu portalnya.

Semoga semua mimpi ini bisa kuwujudkan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment